ritual pagi hari
May 5, 2008
Matahari bangunkan aku dari mimpi
Segera ke kamar mandi basuh diri
Sebelum siapkan sepatu dan baju
guna pergi kuliah, semakin memuakkan.
Ah.. secangkir kopi yang kuhirup terasa hari jadi
Lihat TV, berita masih sama
Sekedar pemuas selera tanpa berpijak pada fakta
di jendela melintas anak sekolah
yang pergi berguru pada hari
Betapa ceria pagi ini
Terpantul di wajah buruh yang sabar
Mengolah hidup di dunia kapital
Sembari bersiul kumasukan optimis ke dalam tas
Berharap matahari tak meledak ini hari
Sebab waktu belum tuntas
Tunaikan tugas
sebagai manusia yang biasa-biasa saja
motor 70an melaju dengan kencang
apatis
May 5, 2008
Dia merasa hidup setelah mulai memejamkan mata, di saat hewan-hewan berakal sepertinya justru terjaga dan beraktivitas. Beraktivitas…? Ah..! bukankah memejamkan mata juga merupakan sebuah aktivitas? Rutinitas yang tiap hari dilalui! hal apa yang entah bercokol di otaknya dari dulu… aku masih ingat betul dengan omongan dia ketika kami masih satu organisasi dulu. ‘ satu-satu nya hal yang kuinginkan mulai dari sekarang adalah membahagiakan orang tuaku sebahagia-bahagianya bahagia! Setelah melewati tahap itu, kematian adalah hal selanjutnya yang aku harapkan! Aku ingin mati muda! Seperti halnya jim Morrison, Hendrix, Janis Joplin dan cobain! Tapi aku tidak ingin berada satu tempat dengan mereka, apalagi satu ruangan! Tidak! Aku bahkan tidak ingin melihat batang hidung mereka setelah aku mati! Cukup di dunia ini saja aku melihat dan mengagumi mereka!’ ketika kutanya mengapa punya keinginan mati muda? Bukankah kebanyakan orang justru punya keinginan menikmati masa tuanya bersama anak cucu mereka? Berbahagia bersama keluarganya? Dia dengan enteng berucap ‘orang-orang seperti itu adalah orang2 yang monoton!’ tersenyum kecut aku mendengar jawaban tersebut. mungkin aku juga -bahkan meyakini- kalau saja aku masih memiliki ‘kami’ ataupun ‘kita’ akupun akan berpikiran sama sepert dia. Tapi persetan! dia punya impiannya sendiri, impian untuk membahagiakan orang tuanya dan kemudian mati muda, akupun punya impian; menjadi manusia yang apatis, se apatis-apatisnya apatis! Persetan!
terpasung
May 5, 2008
Berapa juta deru mesin yang telah aku dengar
Makin pekak, gendang telinga bergetar
Mondar-mandir hingar bingar
Membuat mata tak segar
Perut mual
Rasa mau terjungkal
Melihat ulah si kadal
Yang makin binal, bengal dan bebal
Jutaan suara hanya tertampung
Dalam perut yang menggelembung
Dalam otak yang gemblung
Dalam tangan yang teracung
Dalam sikap yang linglung
Dan aku terbungkus sarung
Disekeliling gedung
Terselubung
Terkurung
Terpasung
Ditengah orang yang murung
Wahai kawan mari bergabung
Kita bersabung, bertarung
Melawan hati yang bercokol di belakang panggung
Memukul tangan besi yang buntung
Tanpa uang dalam kantung
Mereka sekumpulan “balung”
Setelah jiwa kita masuk dalam hutang yang tak terhitung